Kenapa Sering Ada Perbedaan Obat Antara Pasien BPJS dan Non-BPJS?
Pernah nggak sih kamu dengar cerita, atau bahkan ngalamin sendiri, pas lagi periksa ke dokter terus obat yang kamu dapat beda sama temen kamu yang berobat di tempat yang sama, cuma bedanya kamu pakai BPJS dan dia bayar sendiri? Terus jadi mikir, "Kenapa sih obatnya beda? Emang BPJS ngasih obat yang kualitasnya lebih rendah?"
Jawabannya:
Oke, biar clear dulu ya. BPJS itu punya sistem tersendiri untuk mengatur pengadaan obat-obatan yang dikasih ke pasien. Semua obat yang dikasih ke pasien BPJS harus sesuai sama daftar yang namanya formularium nasional (fornas). Fornas ini kayak daftar resmi yang isinya obat-obatan yang boleh diresepkan untuk pasien BPJS. Obat-obatan ini udah dinilai aman, efektif, dan yang pasti sesuai sama budget BPJS yang ngurusin jutaan orang di Indonesia. Jadi kalau kamu pakai BPJS, dokternya bakal kasih obat yang ada di daftar ini.
Sementara itu, kalau kamu bayar sendiri atau nggak pakai BPJS, dokter bisa lebih fleksibel ngeresepin obat, termasuk yang nggak ada di fornas. Biasanya ini karena obatnya lebih baru, lebih mahal, atau mungkin pilihan dokternya aja yang mikir itu cocok buat kamu. Tapi bukan berarti obat BPJS itu jelek, ya. Obat di fornas itu udah diuji dan diseleksi ketat kok. Hanya aja, ada beberapa obat yang mungkin nggak masuk fornas karena harganya terlalu tinggi buat dimasukin ke sistem BPJS yang tujuannya ngasih akses kesehatan buat semua orang, bukan cuma buat segelintir yang mampu.
Jadi, intinya sih, perbedaan obat antara pasien BPJS dan non-BPJS itu lebih ke soal aturan dan efisiensi biaya. Tapi kamu tetap bisa diskusi sama dokter, kok, kalau merasa obat yang kamu dapat kurang cocok. Mereka pasti bakal nyari solusi terbaik buat kamu, karena kesehatan kamu tetap prioritas utama, BPJS atau nggak.
Komentar
Posting Komentar